Jadi, awalnya begini….

To begin with… 

Ini cerita bagaimana kami (maksudnya si Emak) memulai perjalanan keluarga. Seperti yang saya ungkapkan di introduction, saya sudah pernah membuat beberapa blog tapi tidak terstruktur. Mencar-mencar gitu, dulu postingannya campur aduk sih. Sekarang maunya lebih rapi. Cita-citanya begitu 😂😂😅. 

Anyway, si Emak pikirannya cenderung tidak terstruktur dan kusut kayak benang rajut sampai suatu hari di awal 2017 ada pembukaan batch 3 matrikulasi IIP (Institut Ibu Profesional). Saya daftar dan mengikuti rangkaian materi online selama 9 minggu. Tiap minggu mesti mengerjakan PR (namanya Nice Home Work/NHW) yang ternyata menguras emosi dan pikiran. Ga susah sih, cuma buat orang yang pikirannya semrawut macem saya, memetakan diri sendiri adalah tantangan maha berat (duilee). 

Sampailah pada salah satu NHW yang mengulik soal passion. Saya maunya apa? saya bisanya apa? saya sukanya apa? Selama ini saya sering mengerjakan sesuatu atas perintah orang lain dan saya pikir saya lumayan mahir disitu (ingat dulu pas masih ngantor) tapi setelah dikorek-korek, sebenarnya saya ga bisa2 amat, cuma berusaha ekstra keras aja dan endingnya ga rewarding pula.

Melalui kontemplasi sekian malam, satu hal yang saya nikmati dan cukup mahir melakukannya adalah merencanakan liburan keluarga. Saya sebenarnya ga senang kerja 24/7 9 to 5 karena bosan dengan rutinitas yang monoton. Senang tantangan baru, belajar budaya dengan merasakan langsung, kerja part time, volunteer, dan yang pasti saya menikmati liburan yang sepi. 

Agak antimainstream mengingat budaya Indonesia senangnya kumpul-kumpul. Do everything together. I am like total opposite. Si Bapak pun sama, dia orang yang bisa dipastikan melipir ke pojokan atau masuk kamar kalau sedang kumpul keluarga. Lelah kalau terlalu banyak ngobrol sana sini. Bedanya dia tak tergoyahkan, seenaknya bisa kabur… Lah gue pegimane. Walaupun kurang nyaman masih bisa lah ngobrol ngalor ngidul (endingnya tepar dan kepala pusing).

Balik ke bahasan IIP, ketika sedang mengerjakan 9 NHW di 9 minggu itu, entah bagaimana saya dapat info soal #KonMari. Kemudian ada teman yang merekomendasikan bukunya, saya beli tanpa pikir panjang. Nah, saya rada syok pas baca buku KonMari. *SpoilerAlert*  : Buku ini bukan sekedar buku tentang cara beberes barang, buku ini bisa mengubah masa depan Anda 😨😨. 

Lepas dari kegiatan matrikulasi, saya mulai KonMari jilid 1. Suami dan Mirai diajak karena saya ga mau sibuk sendirian. Saya penasaran dengan cerita Marie Kondo dan testimoni para kliennya,benarkah efek KonMari lebih dari sekedar rumah rapi? 

Ternyata…..
Saya meremehkannya, saudara saudara.. 

Syarat utamanya adalah ikuti sampai tuntas seluruh langkahnya. Saya termasuk orang yang manut buku jadi saya patuh pisan… dan disitu saya mengalami dissonasi kognisi. 

Ketika menyortir barang, saya dihadapkan pada 1 pertanyaan besar : Kamu mau gaya hidup seperti apa? Awalnya sempat mau “lari dari diri sendiri”, tapi saya putuskan untuk menghadapi diri saya fish-to-fish. Tersortirlah Barang di 5 Kontainer @82L, 40Kg pakaian,  1 koper dgn berat maks. 20kg, Beberapa kardus buku, 1 Lemari pakaian pun terjual. KonMari jilid 1 berhasil mengeluarkan setidaknya 50% barang dirumah. 

Ok, rumah saya mulai kosong.. Setelah beres kirim-kirim barang, saya merasa tidak puas dan kembali menyortir ulang barang : Konmari jilid 2. Jilid 2 mereduksi barang saya jadi tinggal 25%. Suami komplain bahwa barang kami masih banyak dan sebaiknya dikurangi lagi, tapi saya mau napas dulu. Cape bo wkwkkw..

Apa yang kamu dapat dari KonMari? yang jelas kegiatan ini menuliskan ulang impian kami terhadap gaya hidup tertentu. Kami penggemar minimalisme, dan ingin hidup sederhana. Terlihat anti mainstream padahal kalau dipikir-pikir, minimalism sejalan dengan ajaran islam : tidak berlebih-lebihan, mengekang hawa nafsu (konsumerisme adalah produk keserakahan manusia), berhemat, Beli yang dibutuhkan saja dan menghilangkan kelekatan terhadap materi. Khusus di bagian melepaskan kemelekatan dengan materi, ada fase “berdamai dengan masa lalu” dan “let go the emotional baggage”. Kalau berpikir ke depan, harta tidak dibawa mati, jadi buat apa mencintai harta sampai sebegitu takut kekurangan. Saya menyimpan yang saya butuhkan karena memang untuk menunjang hidup sehari-hari. Ya cuma itu. 

Cita-cita kami sekarang adalah worldschooling. Awalnya karena ingin mengenalkan ragam budaya ke anak, tapi setelah dipikir-pikir kami ingin merasakan pengalaman langsung tinggal di mancanegara. Sekali seumur hidup kami meraih cita-cita supaya tidak menyesal nantinya. I know this is very crucial decision and we’ve been through many discussions about it. Semoga rencana kehidupan kami direstui oleh Allah SWT. 

-Nares for Travelling mikana-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *