#Roadtrip to Lampung ~Rediscover Nature in Way Kambas~

20/11/2017 

Hari kedua, kami bangun pagi-pagi dan bersiap berangkat ke Taman Nasional Way Kambas. Sejak menyusun itinerary, si Bapak bertanya “Highlight perjalanan kita itu apa?”. Yang pasti memang pengalaman menyebrang naik Ferry, tapi setelahnya? Saya banyak maunya.. mau ke Kiluan, ke Pahawang, ke anu anu anu tapi waktu ga cukup. Diputuskan ke tempat yang cuma ada di Lampung : TN Way Kambas. 

Ngapain coba jauh2 datang cuma buat lihat Gajah? bukan masalah itu sih. Saya ini sedikit terobsesi mengajak Mirai melihat binatang di habitat naturalnya. Setidaknya area konservasi dibandingkan kebun binatang. Kasihan hewan di kebun binatang yang tinggal di tempat sempit. Plus nostalgia juga waktu kecil saya pernah diajak ke Way Kambas oleh orangtua tapi saya ga bisa mengingat sebagian besar memori itu. Plus saya pengen banget ke tempat yang suasananya natural dan banyak pohon. Way Kambas is basically forest and savanna. 

Setelah check out hotel jam 6.45, kami langsung pasang  waze untuk lihat rute. Ketemu beberapa rute, tapi kami ambil yang lewat Metro karena kata resepsionis, rute lewat Sutami jalannya jelek. Kali ini, emak jadi driver rute pertama. Berhubung ini hari senin dan jam orang berangkat kerja, kendaraan agak penuh di jalan Kartini. Mesti lewat situ sih, mau ga mau.

*** 

Singkat cerita kami otw ke Way Kambas, lepas dari suasana kota. Kembali kami menyusuri jalan pedesaan yang kanan kiri sawah pohon rindang dan pemandangan alam yang cakep. Indonesia mungkin ga terlalu bagus memanage infrastruktur tapi alamnya memang tiada duanya deh.  

Sesampainya di gerbang Way Kambas, kami membayar tiket masuk Rp 24.000 (Mobil 10.000, tiket dewasa @5.000, Asuransi untuk 2 orang @2.000), Mirai ga bayar. Yeay Murah πŸ‘ padahal di salah satu blog tertulis HTM 20.000/orang. Lumayan berhemat. Di gerbang masuk juga ada penjual pisang, kalau mau kasih makan gajah, beli pisangnya di gerbang karena katanya didalam tidak ada yang jual. Kami beli 1 sisir pisang yang Guedee seharga 15.000.

Dari gerbang masuk ada 2 petunjuk jalan, lurus ke Way Kanan 13km, belok kanan ke Sekolah Gajah 9km. Kata petugasnya, Way Kanan itu alam liar, kalau beruntung kita bisa bertemu hewan-hewan liar yang ada di TN Way Kambas. Namun mengingat jalannya masih gravel, dan mobil saya bukan 4w drive jadi kami langsung belok kanan ke Sekolah Gajah. Kan memang tujuannya mau lihat gajah. 

Back to the forest 🌲🌲🌳🌳🌳. Jalanannya sepiii banget, cuma ada 1 motor lewat. Karena udaranya lumayan bersih, kami buka kaca mobil dan teriak-teriak “Woo-hooo” (NorakπŸ˜‚). 9km ga terasa sih. Tau-tau kami sampai di gerbang yang ada gading gajah bertuliskan Selamat Datang di Sekolah Gajah. Begitulah.

*** 

Let me remind you that this is Monday at 10 a.m dan Kawasan Sekolah Gajahnya… 
S.E.P.I πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜…πŸ˜…

Dimanakah gajah-gajah ini berada? 

Mirai teralihkan karena ada outdoor playground tak jauh dari parkiran. Yaah ga kenapa-kenapa juga sih, tapi masa’ udah jauh2 ke Way Kambas cuma main di playground. Emak keliling-keliling, celingak celinguk cari informasi. Disitu ada kantor pengelola kawasan, kebetulan ada ibu pejabat sedang duduk di teras langsung saya tanya. 

Lumayanlah ada outdoor playground, sedikit mengobati kelelahan pasca roadtrip

Di belakang kantor ada Mess untuk Mahout (pawang gajah), nah ada 1 ekor Gajah sedang standby disitu. Katanya pawangnya belum datang jadi gajahnya menunggu dengan kaki terikat rantai. Sejujurnya kondisi di sekolah gajah Way Kambas memprihatinkan. Beberapa gedung rusak, ada mess Mahout yang ga layak ditempati. 

Kenalkan, saya Salmon

Sayang amat ya kesejahteraan mereka sepertinya kurang diperhatikan. Memang ga mudah mengelola National Park, apalagi tiket masuk semurah itu. Untungnya gajah-gajah survive karena makan di savanna tapi kalau konteksnya tempat wisata mah kurang “menjual” ya. 
Kami menikmati berkenalan dengan seekor Gajah yang dirantai, yang belakangan kami tahu namanya Salmon 😘. Mirai memberi makan pisang 1 per 1. Dia takut tapi penasaran. Akhirnya berani mendekat sedikit-sedikit. Di sekitar Salmon, kami menemukan banyak kotoran πŸ’©πŸ’© dan si Bapak foto2 pup Gajah 🀣. Lumayan buat pembelajaran Mirai karena dia lagi senang ngomong “jorok” seputar pantat dan πŸ’©. Gaje banget. 

Dapat tutorial singkat tentang kotoran Gajah

Setelah memberi makan Salmon si Gajah, kami berputar-putar melihat padang rumput, menyebrang lembah kecil lewat batang pohon yang patah dan sampai di bukit belakang, dan kembali menemukan Gajah sedang merumput. Yeay! Berhubung takut si Gajah tidak didampingi pawang, kami berusaha mendekati tanpa membuat keributan. 

Tiba-tiba datang seorang pawang dari arah mess, dia bertanya apakah kami mau lihat gajah yang lain atau trekking savana. Rupanya disitu bisa trekking naik gajah ke tempat angon gajah (deep in the savanna) dengan biaya 150.000/orang *uhukk* *keselek koin*

Saya mah mau-mau aja tapi begitu cek dompet… 😭😭. Mirai ga mau naik gajah, si Bapak ga mau juga. Nasip traveller uang ngepas 😒🀧. Ya udah lah kami ngobrol2 sama Mahout dan foto-foto sama Gajah yang ada pawangnya. 

Menurut salah satu Mahout, di sekolah Gajah ini ada sekitar 67 ekor gajah (semoga ga salah dengar). Setiap pagi mereka dilepas ke area angon gajah (sekitar radius 7 km dari kandang gajah yang dekat mess Mahout) untuk makan. Jadi waktu paling pas untuk ketemu semua gajah kira-kira jam 7-8 pagi sebelum mereka pergi makan atau sore hari jam 16-17.00 disaat gajah2 sudah dijemput para Mahout balik ke kandangnya. 

Not our lucky day, tapi di kandang gajah ada 3 gajah yang tidak pergi makan. Kata salah satu Mahout, gajah-gajah ini sedang bermasalah perilakunya jadi mesti dilatih lebih keras dan sementara ga dibolehin pergi ke area angon. Mirip anak sekolah sedang disetrap πŸ˜…. 

Sekilas Situasi Way Kambas

Dulu saya pernah mendengar bahwa gajah-gajah dari Way Kambas dikirim ke berbagai tempat di Indonesia, salah satunya Taman Safari Bogor. Jadi gajahnya disekolahkan dulu biar pintar πŸ˜…. Saya pribadi ga suka atraksi gajah dan kasihan lihat gajah di pertunjukan semacam sirkus gitu. Paling ga di Way Kambas ini mereka bebas jalan-jalan di tempat yang lapang. 
*** 

Road less travelled. Sepi bener. Kami berhenti di pinggir pas ada rombongan Keluwing besar nyebrang jalan.

Kami berada disini selama kurleb 1.5 jam. Setelah selesai makan bekal dan urusan WC, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju hotel berikutnya. Next Stop : Kahai Beach. Another unknown place. 
to be continued …. 

-Nares for travelling mikana-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *