Travelling Mikana

Slice of Life Mirai-Kautsar-Nares

Jalan-Jalan di Indonesia

#Roadtrip to Lampung ~Hari kedua : Kahai Beach~

Onedust

20/11/2017

Tebak dong kami pergi kemana setelah Way Kambas?

.

.

.

Yes, balik arah pulang ke Lampung Selatan tapi kami masih sisa 1 malam lagi di Lampung. Karena ingin lebih dekat ke Bakauheni, kami putuskan untuk cari penginapan dimanapun itu di Lampung Selatan πŸ˜‚.

Bagian sininya Emak selaku hotel surveyor menemukan tempat yang ga ada di PetaπŸ˜‚ (Lebay) yaitu Pantai Kahai. Iya pantai ini kurang tersohor. Pas googling aja infonya sedikit jadi saya semacam beli kucing dalam karung. Ketemulah 1 hotel di apps Airy Room yang letaknya di lampung selatan (Review hotel terpisah), dan kami memutuskan eksplorasi daerah Pantai Kahai.

Rute dari TN Way Kambas – Kahai Beach melewati Jalan Lintas Pantai Timur Sumatera, yang sekali lagi PEMANDANGANNYA INDAH. Again, road, less travelled. Kami kembali ditemani oleh truk-truk besar yang mengarah ke Bakauheni. Lampung Timur sepertinya daerah yang kurang tereksplorasi pariwisatanya, karena dari berbagai apps yang saya survey, nyaris tidak ada penginapan/hotel/resort di Lampung Timur (Kesimpulan Sotoy).

Sekitar area Ketapang (kecamatan sebelum Bakauheni), kami disuguhi pemandangan janur di kanan kiri jalan. Ada Pura untuk ibadah umat Hindu. Uniknya di kecamatan yang kami lewati kami mendapat sensasi Bali. Design pagar rumah, Pura, Sesajen yang ditaruh didepan rumah kok persis seperti di pulau Dewata ya? Tapi saya belum cari tahu histori kampung ini, mana tau ada transmigran dari Bali atau apalah.

Rutenya ga banyak kelok-kelok,kecuali ada 1 persimpangan yang kita memutuskan : Belok ke Kalianda atau lurus terus ke Bakauheni. Heu heu. Kami mengambil jalur lurus ke Bakauheni dan memang tembusnya di dekat Menara Siger (Kapal docking kelihatan jelas dari sini). Jelang menara siger Rutenya mesti dipilih : belok kiri ke pelabuhan atau belok kanan balik ke jalan trans sumatra. Yes Kami belok ke kanan.

Setelah itu kami mampir di Pom Bensin dengan patung Garuda hitam untuk isi bahan bakar bumbum dan kami. Tempat makan di sepanjang kiri jalan tidak terlalu banyak, tapi dekat pom bensin ada warung pecel lele. Akhirnya makan siang disitu.

Lumayan lah 1 porsi harga 17 ribu isinya Lele kecil 2 ekor, sayur asem semangkok, nasi putih, lalapan, tempe dan sambel. Sambelnya pedes uedan jadi saya makan berdua ma suami aja. Porsi 1nya dibungkus karena Mirai cuma makan 1 ekor lele. Kenyang dan Murmer.

Sekalian bertanya jalan ke ibu penjual pecel, katanya untuk menuju pantai Kahai kami mesti belok kanan (arah bakauheni). Setelah pom bensin akan ada belokan masuk ke kanan menuju Pantai Marina dan Minang Ruo. Dari situ bisa tembus ke Pantai Kahai.

Mengingat Lampung pantainya terkoneksi, saya sempat percaya dan nyaris ambil keputusan sepihak. Begitu lihat WAZE 😱😱 Lah ini kenapa ga muncul di peta. Terus jalannya buntu.

Saya tanya lagi ke orang pom bensin dan kata mas- masnya, “Oh klo ke Kahai Ibu bisa belok kiri di simpang Gayam”. Mana hapeku baru kecas sebentar pas makan, mau nyalain WAZE juga 15 menit Hape Death. Maps Iphonenya Bapak ga reliable, titik location kami geser2 terus.

Ya udah ngandelin insting ajah 😀😀. Cuss kami nyetir ke arah Simpang Gayam (Arah bandar lampung). Katanya perempatan pertama sejak Pom Bensin. Tancap Gas.. Kembali ke rute Trans Sumatra.

Tapiiii…

Sudah sekian kilometer berlalu, kenapa belum ada Simpang? Emak salah translate arti kata Simpang. Di rute Trans Sumatra ada Jalan kecil ke kiri yang keterangannya “Desa Pisang” (sebelum kami menemukan Simpang Gayam) dan saya inisiatif ambil jalur ini. Simpang itu perempatan atau pertigaan ya?

Kami memasuki kawasan Desa Pisang. Dont know where it is. Waze masih nyala dgn bateri Merah dan sekali2 hilang sinyal. #HorangGila. Kembali kami disuguhi jalan2 kelok naik turun bukit. Mana jalan ini sempit pula cuma muat 2 mobil ngepassss. Ini kita dimaaanaa??πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Setengah yakin Emak lanjut nyetir. Kami melewati beberapa Desa sebelum akhirnya tiba di Desa Batu Balak (tempat Hotel berada).

Gimana pemandangannya? Gorgeous dong. Another Road Less Travelled. Indikatornya adalah Warung Nasi dan Toko Kelontong nyaris ga ada πŸ˜…πŸ˜…. Ni sebenarnya kita mau ngapain ya di Lampung? 🀣🀣.

Setelah 14 km berkelok-kelok, tiba-tiba di kiri jalan ada tulisan “Krakatau Kahai Beach” πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽŠπŸŽŠ. Yeaaay we have arrived. Hotel ini ternyata in the middle of nowhere 🀣 dan Parkirannya sepi. Cuma mobil kami saja (Setel Background suara Gagak). Ada ga sih orang yang cukup aneh menginap hari Senin ke Selasa di hotel terpencil begini? *tunjuk diri sendiri*

Tapiiii …. pemandangan dari hotel ke lautnya. Waiiiiiiiiii… Selat Sunda disebelah kami. Akhh keren deh. Bisa dipastikan hotel ini akan menjadi milik kami selama semalam.

…… yeah that was I thought.

Ternyata ada lagi tamu datang di family suite dan Campground (pisah gedung). Paling enggak ga horor2 amat. Tapi gedung yang ada kamar kaminya… sepi….

Anyway, sesungguhnya kami hanya transit di hotel ini karena ini hotel terdekat dari Bakauheni. Malas banget nginep di Bandar Lampung lalu besoknya kembali menyusuri trans sumatra selama 2,5jam, alamat mesti berangkat pagi2. Inipun gambling.. klo ni hotel ga bagus, wassalam deh besoknya ngantuk2 atau jadi zombie.

*****

Enough said, mari kita main di Pantai Kahai..

Garis pantainya pendek dan pantai yang langsung dari area hotel tidak bagus. Sedih 😒. Tapi kekecewaan terobati karena diluar pagar hotel, ada jalur penyusup yang membuat kami bisa nyebrang ke area pantai sebelahnya. Lumayan area main pasirnya lebih lega. Untungnya yang main di pantai cuma kami bertiga doang. Another definition of PRIVATE Beach.

Mirai mah asal lihat pasir langsung senang. Anak kecil memang gampang terpuaskan 🀣🀣. Di area sebelah hotel ini, dipasang batu2 besar pemecah ombak jadi ada area yang tergenang air sampai dada tapi ga kena ombak langsung. Aman.

Disini banyaaaak kepiting. Kami juga mengumpulkan kelomang. Bersantai2 di sore dan pagi hari. Pas pagi, pemandangan ke arah lautnya cakeeeep banget, langit biru cerah, dan terlihat gunung krakatau.

“Maka nikmat dari Allah yang mana yang kau dustakan?”

Walaupun pantai Kahai bukan pantai ideal kami (kalau mau komplain, listnya panjang), tapi kami memilih bersyukur karena sudah diberi kesempatan untuk liburan bersama dan menyaksikan keindahan Lampung. Terimakasih Allah SWT.

Jelang pulang dari pantai, kami berkenalan dengan nelayan yang menawarkan jasa penyebrangan ke pulau mengkudu. Memang ada pulau kecil di lepas pantai yang terlihat dekat, kata beliau nyebrangnya juga 10 menit nyampe.

Di pulau Mengkudu kita bisa berkemah, snorkeling, api unggun dll. Biaya penyebrangan cukup murah hanya 15ribu/orang, sewa alat snorkeling 25ribu/jam. Sayangnya kami sudah harus siap2 pulang ke jawa. Next time it is on our list.

Goodbye Kahai beach, till we meet again

-Nares for Travelling Mikana-

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top