Travelling Mikana

Slice of Life Mirai-Kautsar-Nares

Living in Japan

Tips menemukan makanan yang mendekati 100% Halal

Onedust

Sebelum memulai tulisan, saya perlu menuliskan Disclaimer.

** Disclaimer** 

Tulisan ini tidak cocok untuk orang yang tergila-gila Logo Halal MUI/Halal negara lain.

*******

Tinggal di Indonesia membuat orang muslim agak “manja” (bukan dalam artian negatif lho) karena makanan halal ada di semua tempat dan kita tidak perlu repot menyortirnya. Makanan non halal juga jelas tertera di logonya. Memang Indonesia bikin muslim bahagia. Tetapi lain halnya kalau kita pergi ke negara yang muslimnya minoritas atau malah tidak ada. Disini pertama kalinya seorang muslim dihadapkan pada tantangan terbesar : Survival.

Saya pernah punya kenalan muslim malaysia yang tinggal 1 dormitory jaman kuliah. Dia sangat memegang teguh logo Halal dan hanya mau makan bahan makanan yang dikirim dari orangtuanya, yang kebanyakan mie instan dan makanan kemasan. Luar biasa, saya sih tidak sanggup kalau harus makan mie instan terus-terusan. Yang ada saya sakit di Jepang, terus bingung ga bisa minta tolong ke keluarga.

Idealnya memang kita tetap menjaga kehalalan makanan yang kita konsumsi, tapi kalau di negara yang muslimnya minoritas, menurut saya pribadi, kita perlu melakukan beberapa penyesuaian. Saya selama ini patuh koridor besar : No Pork (dan turunannya) & No Alcohol (dan turunannya). Tetapi ada hal minor yang mesti disesuaikan dalam konteks kehalalan.

****

Setelah 3x ke Jepang, saya merangkum beberapa pengetahuan yang kiranya membantu muslim traveller lain.

  1. Bila anda bisa menemukan tempat menginap yang menyediakan dapur beserta peralatannya dan akses lokasi dekat dengan supermarket halal, Tolong masak sendiri aja. Ini opsi paling ideal.
  2. Sekira opsi pertama tidak bisa terpenuhi, maka carilah bahan makanan yang “Aman” dan siap dimakan seperti seafood, sayuran/kacang2an, Tofu dan Natto di supermarket atau convenience store.
  3. Untuk yang sudah mampu membaca tulisan kanji, bacalah list bahan di belakang kemasan makanan dengan sungguh-sungguh. Ini bentuk ikhtiar terbesar menurutku. It is time-consuming, but it is worth it!
  4. Banyak yang meragukan kehalalan ayam dan daging sapi di Jepang, kalau ragu JANGAN MAKAN! Berusahalah menyukai seafood dan segala ikan disini karena In Sha Allah fresh dan halal.
  5. Untuk yang stay dalam waktu lama, berusahalah cari tahu informasi tentang toko makanan halal yang aksesibel. Sesampai di Higashikawa, saya dapat informasi dari teman tentang ayam halal dan daging sapi halal, kebetulan ayam halal dijual di supermarket dekat rumah jadi effort saya minimal (walaupun sempat ada keraguan soal kesegaran dagingnya). Daging sapi sepertinya tidak akan sering saya beli karena harganya fantastis *elus elus dompet*
  6. Banyak makanan siap saji di restoran atau supermarket mengandung bahan-bahan seperti mirin dan sake. Saya mau jelaskan sedikit mengenai dapur restoran karena dulu pernah kerja di Izakaya (Resto bar untuk orang minum-minum). Restoran jepang biasanya menggunakan minyak sayuran (vegetable oil) untuk menggoreng deep fry, jadi minyak babi tereliminasi ya. Orang jepang ga suka makanan yang terlalu greasy soalnya. Lalu soal Mirin dan Sake, menu yang dimasak sebagian besar adalah menu oseng. Nah oseng-oseng ini biasanya menggunakan sake sebagai penyedap rasa. Ya, anda tidak salah dengar : Sake itu seperti penyedap rasa. Jadi pakainya benar-benar secuil, misal 1/2 – 1 sdt. Berhubung alkoholnya tidak seberapa, dan menu oseng-oseng pasti pakai api besar. Alkohol dalam sake pasti menguap dan yang tertinggal hanya flavornya. Berbekal informasi ini, silahkan menyimpulkan mau lanjut makan atau ganti menu.
  7. Di restoran sushi, beberapa ikan mentah diolesi sake juga. Sake berfungsi sebagai anti-bakteri. Pemakaian sangat sedikit, tidak sampai 1/2 sdt juga karena dioleskan. Silahkan menyimpulkan masih tetap mau makan atau tidak. Kalau mau aman, pesanlah menu yang ikannya dimasak/diflame misalnya Salmon aburi (dibakar atasnya pakai blow torch), atau unagi (bumbu mirip teriyaki), california roll, negitoro maki (tuna mentah dikasih daun bawang). atau pindah restoran.
  8. Jepang terkenal dengan Ramen/Soba/Udonnya. Kayaknya kalau ga nyobain, ga afdol, ya kan? Bagi yang sudah install apps Halal Media Japan, silahkan cari restoran Noodle yang halal. Ini ikhtiar terbaik! Kalau ternyata ga ketemu, mari kita sortir bahannya. Kalau saya memilah dari sejak lihat plang restorannya, bila ada tulisan 豚骨ラーメン (Tonkotsu Ramen), langsung saya eliminasi karena artinya “Tulang Babi”. Kuahnya dibuat dari tulang babi. Bila tidak ada tulisan Tonkotsu, kita sortir lagi : Miso Ramen atau Shoyu Ramen. Miso Ramen biasanya kuah dasar dicampur miso. Nah kuah dasarnya yang agak meragukan, karena bisa saja dari tulang babi juga atau ayam. Shoyu ramen relatif pilihan yang lebih safe karena rasanya light. Kemungkinan dari ekstrak wakame/konbu (rumput laut). Again, kalau kamu tidak yakin, JANGAN MAKAN!
  9. Roti tawar. Ada seorang teman yang rajin membuat roti sendiri. Saya juga maunya begitu, seandainya punya banyak waktu di rumah. Jadi bila membeli roti, again, bacalah list bahan di belakang kemasan rotinya. Bila dirasa tidak masalah, beli saja.
  10. Susu dan turunannya. Saya tidak punya masalah dengan susu sapi (FYI, disini ga jual susu babi ya) oleh karena itu sayapun tidak masalah dengan keju dan kawan-kawannya. Saya cuma bermasalah dengan processed food, sekiranya list bahannya kelewat panjang dan namanya aneh2 biasanya saya tinggalkan.
  11. Permen/gummies. Pay attention to Gummies! karena mereka mengandung gelatin. Gelatin yang dipakai di Jepang kemungkinan besar babi karena babi relatif lebih murah daripada sapi. Prinsip Ekonomi.
  12. Mousse/Panacotta/Pudding. duuh ini makanan enak semua ya… tapi ada beberapa yang pakai gelatin sebagai pengentalnya. Gelatinnya yang meragukan. Baca di list bahannya ya. Kalau ga ada gelatin, lanjut aja makannya.
  13. Pay attention to Natrium Amount. Ga tau ini masuk ke prinsip halal atau tidak, sekalian saya selipkan ya. Soalnya natrium/sodium tidak boleh berlebihan juga. Baca amount Natrium per Servingnya. Komparasinya dengan size per serving. Misal, makanan ini dipacking per serving 50 gram, tapi natrium amountnya >500mg, langsung saya eliminasi. Too much salt is not good right?
  14. Shoyu/Kecap Jepang. Tiada makanan Jepang yang lengkap tanpa shoyu, setuju? Nyari shoyu halal juga PR disini. If you can, please gather information as much as possible regarding halal store in japan. Kalau ga bisa, baca satu per satu produk shoyu di supermarket, cari yang tanpa tulisan alkohol. Saya akhirnya ketemu 1 produk kikkoman yang tidak ada tulisan alkoholnya. Sedikit ragu, tapi di kemasan kikkoman lainnya tertulis jelas Alkoholnya. For the time being, I think it is okay. Saya belum mencari tahu produsen halal food japan yang lokasinya dekat kota saya.

*****

Sekian cuap-cuap saya kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.

 

Higashikawa, 19 April 2019

 

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top