Travelling Mikana

Slice of Life Mirai-Kautsar-Nares

Living in Japan, Travelling abroad

Pindah ke Hokkaido

Onedust

Mungkin banyak yang menanti cerita ini ya? *GR*

Saya sudah lama ingin berbagi perjalanan panjang keluarga kami sampai akhirnya tiba di Hokkaido.

Separuh pertama cerita sudah saya tulis di blog ini juga dengan judul seputar Konmari, karena memang itulah awal dari segalanya. Paruh kedua bermula sejak kami pindah ke Sevilla BSD. Sejujurnya saya merasa sangat dibimbing oleh Allah SWT dalam menempuh perjalanan ini. Ada yang tanya ke saya, “kok bisa sih kamu pergi ke Jepang sekeluarga?” BISA banget.

Menurut saya ada 2 faktor yang membuat ini terjadi. Faktor pertama adalah faktor Langit. Manusia cuma bisa berencana tapi YANG MAHA SEGALANYA yang ketok palu.  Yeah, this is because ALLAH SWT granted our prayers.

Faktor kedua adalah usaha kami sekeluarga. Sejak Mirai masih lebih kecil, kami pernah punya cita-cita untuk tinggal di luar negeri sekeluarga. Tapi karena satu dan lain hal, cita-cita itu terkubur dengan kesibukan membayar cicilan KPR dan kartu kredit. Kami baru kembali menemukan kejernihan berpikir setelah kami melakukan Konmari besar-besaran 5x.

Terbukti kan jargon buku si Konmari “Life-changing Magic of Tidying up”? Agak mengerikan dan terdengar tidak masuk akal tapi ini kenyataan yang terjadi pada keluarga kami.

*****

Sepanjang tahun 2016 – 2018 (masih di Serpong Garden), saya sudah beberapa kali mencoba mendaftar ke berbagai universitas di Luar negeri. University of Edinburgh (LOA keluar), Linkoping University (LOA keluar), Beasiswa Monbukagakusho (Failed di seleksi dokumen), LPDP (batch 2017 ditutup), beberapa universitas di Australia (batal kirim dokumen), Beasiswa AAS (batal kirim dokumen). Intinya saya sudah coba.

Suami saya juga sesekali melihat lowongan kerja di luar negeri, saya juga kadang-kadang mengintip prosedur imigrasi ke New Zealand dan Kanada. Tapi semuanya mental begitu saja. Beasiswa ga lolos, mau biaya sendiri pun ga ada uang. Saya cuma berpikir positif, “memang belum saatnya”. Suami saya juga sabar, “ya udah gapapa, kalau memang kita diridhoi nanti juga berangkat”.

2016 – 2018 juga merupakan tahun Konmari kami. Dalam 2 tahun ini kami melakukan 3-4x Konmari besar. Terbesarnya saat kami berhasil jual rumah Serpong Garden di bulan mei 2018, setelah penantian panjang 10 bulan. Suami saya selalu berprinsip, kesempatan pertama harus diambil. Begitu ada orang yang berminat, kami langsung ambil peluang tersebut. Ga mudah juga sih melepaskan memori indah di rumah kami, apalagi saya, karena rumah ini saya yang mandorin dan beli materialnya sendiri. Hasta Karya terbesar.

Tapi setelah 2x Konmari, dan melepaskan barang-barang sentimentil (kategori terakhir), kami sampai pada satu kesimpulan bahwa Home is not a house, Home is us, family together. Ohana means Family. Family means Nobody is left behind (Nyontek Disney :p). Jadi kalau saya mau keluar negeri, ga bisa cuma saya saja yang pergi. Saya maunya sekeluarga pergi. Mungkin itu sebabnya mengapa hati saya ga utuh fokusnya saat mendaftar berbagai beasiswa dan universitas itu. Ada ganjalan di hati saya seandainya kami terpisahkan oleh jarak.

Saya pernah dengar cerita Ibu saya tentang teman atau kenalan yang pisah rumah karena salah satu sekolah ke luar negeri atau kerja, anaknya dititip ke nenek, orangtua pencar-pencar. Dalam hati, “hebat sekali orang-orang ini, ongkos emosinya terlalu besar buat saya”. Dalam keluarga Travelling mikana, kami punya prinsip tidak mengorbankan satu pihak terus-menerus, dan semua anggota keluarga mesti ikut serta dalam pengalaman hidup bersama. Mirai dan Papa Mirai adalah Travelling Buddy saya. Ga bisa cuma saya saja yang berpengalaman ke LN, terus anak dan suami saya ditinggal-tinggal. Berat hati saya,Jenderal!

****

Balik ke hari dimana rumah kami terjual. Kami kaget proses akad jual berlangsung lumayan cepat (Thanks to Mas Santo) dan pembeli bahkan setengah mengusir kami alias disuruh pindah cepat-cepat. Turbulensi terjadi. Tapi ya saya saat itu merasa mendapat pertolongan yang banyaaaaaak dari Allah SWT lewat teman-teman saya. Saya butuh rumah sewa yang murah, dapat info dari kawan HSer di Sevilla. Saat pindahan, tetangga-tetangga di Serpong Garden ada yang bersedia menampung barang-barang yang tak terpakai. Suami saya diizinkan cuti kantor juga. Pemilik rumah sewa baik hati menyetujui harga awal yang notabene lebih murah 10 juta dari harga sesungguhnya. Alhamdulillah.

Singkat cerita, kami pindah ke Sevilla sebelum Lebaran 2018. Saat itu suami bilang ke Pemilik rumah kalau kami akan tinggal disana sampai maret 2019. Saya dan suami berpikiran positif bahwa April 2019 kami sudah pindah ke Jepang (Akhirnya memutuskan Jepang sebagai starting point pindahan karena saya sudah bisa bahasanya) padahal waktu itu kami belum tahu bagaimana cara pindah kesana dan lewat prosedur apa.

Kami menghuni rumah Sevilla Juni 2018, saat itu kami sudah membeli tiket pesawat liburan ke Hokkaido untuk Agustus 2018. Kenapa pilih Hokkaido? No Special Reason alias Random banget pas beli bulan November 2017. Papa Mirai ingin mencicipi Jepang, saya cari tiket promo Air Asia tapi kecewa dengan harga promo ke Tokyo. Padahal setelah beli tiket pesawat, tiket ke Hokkaido jauuuuuuh lebih mahal daripada tiket ke Tokyo.

*****

Lanjut ya?

Fast Forward ke Agustus 2018, kami sekeluarga ke Hokkaido ala minimalis Backpacker. Selain baju tifis, dompet pun tifis. Walaupun baru jual rumah (diasumsikan banyak duit sama orang-orang sekitar) tapi suami saya tidak mau menggunakan uang hasil penjualan rumah sepeserpun jadi kami memakai uang tabungan yang sudah 10bulan disave plus jual saham ipotstock sedikit. Karena kami ke Hokkaido, kami menyempatkan survey sekolah bahasa jepang di area Sapporo. Sebelum berangkat kami sudah kirim email menyatakan ketertarikan belajar bahasa Jepang disana.

Tapi skemanya adalah siBapak yang belajar, emak sebagai support system. Singkat cerita saat berkunjung ke sekolah bahasa Jepang di Sapporo, kami pulang dengan kesimpulan bahwa A) Kalau uchay sekolah bahasa doang, Visa keluarga susah keluar karena status Language school itu lemah (日本語学校 =Nihongakko=Sekolah bahasa Jepang), B) Harga tuition fee untuk 12 bulan lumayan mahal sekitar 1,2 juta yen (1,2 juta = kira-kira Rp 156 juta. (1 yen = Rp 130,-), menghabiskan 1/3 – 1/4 uang hasil penjualan rumah). Maka dari itu, marilah kita tinjau ulang rencana pindah ke Jepang.

Selama kami di Hokkaido, saya sebenarnya janjian ketemu dengan seorang teman yang tinggal di Higashikawa (tapi waktu itu ga tau dia dimana pokoknya bukan di Sapporo), dilalah sang teman batal ketemu karena ada urusan kantor. Baiklah, ga jodoh. Kami melanjutkan jalan-jalan di Hokkaido. Kesan pertama dari Hokkaido : Hokkaido sepiiiii (dibanding Tokyo dan Osaka), hutan pepohonan tempat kemah dimana-mana, kereta sedikit, bus ga tiap jam ada… mungkin ga comfortable buat banyak orang yang mendambakan kehidupan modern macem di Tokyo. TAPIIIIII saya jatuh cinta sama Hokkaido. Menurut saya, ini tempat yang pas untuk membesarkan anak!

Saya bilang ke Pak suami, kalau memang kita bisa pindah ke Jepang, bagaimana kalau ke hokkaido saja? enak udaranya bersih, Mirai dan saya punya alergi debu (Riwayat Asma pula). Udara bersih itu harganya mahaaal buat kami. Suami saya ga sensitif debu jadi dia tinggal dimanapun ga masalah.

Kami pulang ke Indonesia tanpa hasil. Tadinya mantap daftar sekolah bahasa jepang, kemudian jadi galau lagi. Disaat itu, sang teman yang harusnya bertemu kami di Sapporo mengabarkan bahwa dia mau pulkam beberapa minggu ke Jakarta. Wow Hoki banget. Kemudian saat whatsappan, saya jadi tahu bahwa rumahnya dekat cuma selemparan kolor dari rumah kontrakan saya di BSD. Ya Allah terimakasih! Dia datang ke rumah saya dan memberikan booklet Asahikawa Welfare Specialty School (sekolah saya sekarang) plus pamflet tentang Higashikawa. WOWOWOWOW saya ga tau ada tempat seindah itu di Hokkaido. Semacam dapat paket lengkap informasi : Sekolah kejuruan dengan mata kuliah yang sesuai ketertarikan saya, lokasi di bukit, kotanya dekat dengan gunung tertinggi di hokkaido, pemandangannya ijo-ijo segar, dan Higashikawa ditahbiskan sebagai Town of Photography berarti viewnya Cakep, PLUS sekolahnya ada skema beasiswa dan bayarnya ga semahal language school di Sapporo. YES BANGET!

Kembali kami mengadakan rapat keluarga. Setiap event, kami pasti rapat keluarga (bertiga ya bukan berdua). Kalau sekolah di Higashikawa, berarti mama yang sekolah. kalau mama sekolah, berarti papa dirumah. Papa juga harus resign dari kantor, Mirai berarti harus pisah sama teman-teman HS. Siap atau gak? We took some time to consider. Kehidupan kami sudah well-established di Indonesia : Gaji si Bapak cukup untuk kehidupan sehari-hari, kami sudah nyaman gabung di komunitas HS (punya teman-teman yang udah kayak keluarga sendiri), Utang NOL, mobil ada, aset ada. Kami bukan orang yang kaya dari sisi materi, tapi in Sha Allah cukup. Apalagi yang mau dikejar?

Mulailah kami mempertimbangkan kata “Personal Development”. Pindah ke Jepang berarti Start Over Again. Back to Square one (not Zero, Zero mah pas ga ada uang sama sekali). Balik adaptasi, balik belajar, balik kenalan lagi sama orang-orang, balik cari uang lagi. Mau atau tidak? ~The enemy of great life is good life~

Kami sudah nyaman dengan gaya hidup minimalis, sederhana, tidak membeli barang berlebihan, cenderung go-green seperti sekarang. Pun pindah ke Jepang, kami tetap ingin mempertahankan gaya hidup ini. Pun nantinya saya harus bekerja, itu karena untuk melanjutkan hidup sehari-hari(ga mungkin ngegerus saving juga, ga mungkin pengangguran juga di Jepang). Secara setelah konmari, saya jadi ga banyak keinginan beli ini itu.

Singkat cerita, kami mencapai kesepakatan bersama untuk mencoba tantangan baru. Emak mulai mengurusi pendaftaran sekolah. Persyaratan dokumen mewajibkan kami melampirkan bukti bank reference jadi sebisa mungkin kelihatan bahwa kami punya cukup uang untuk hidup sekeluarga di Jepang. Mulailah kami redeem Reksadana dan pooling uang di 1 rekening. Kata Pak Suami, “Kalau kita emang mau ke Jepang, usaha kita mesti All-out ya. Hasilnya nanti gimana ga masalah.. yang penting kita udah usaha maksimal”. Sip bapak!

Bagian yang paling lama dikerjakan adalah mengisi formulir pendaftaran dan melengkapi persyaratan dokumen. Apalagi bikin motivational letter yang berulang kali dihapus. Lanjutkan, Jenderal! Disaat proses pendaftaran inilah datang email dari agen kami, bahwa ada skema beasiswa penuh untuk mahasiswa asing, hanya saja syaratnya : Kerja minimal 5 tahun di Hokkaido setelah lulus. Ikatan Dinas. Kalau keluar Hokkaido, kami harus bayar balik nominal sekitar 3-5 juta yen. Kalau setuju dengan semua persyaratannya, saya akan mendapatkan 100% Full Coverage Tuition Fee, Uang saku 38,000 yen/bulan, Dormitory ditanggung (tapi saya ditempatkan di share house karena bawa keluarga), 100% coverage untuk buku, peralatan OJT, uang saku saat OJT. Too good to be truth penawarannya. Dermawan sekali bukan? setelah bertanya berbagai pertanyaan kepada si agen/pihak sekolah, saya mendapatkan solusi dari kegalauan saya : BOLEH BAWA KELUARGA…. Yes!

Tapi sekalian mendapat berita baik begini, masih ada tantangan yang harus kami lewati : Imigrasi Jepang. Saya dapat cerita buruk dimana tahun lalu orang-orang yang berusaha masuk ke sekolah kejuruan seluruhnya ditolak oleh imigrasi (Certificate of Eligibilitynya tidak keluar). Intinya diterima di sekolah tidak equal pasti berangkat. Benteng yang harus ditembus adalah imigrasi Jepang yang saklek. Pihak sekolah saja tidak bisa menjamin Aplikasi COE pasti tembus. Oleh karena itu, suamiku bilang diawal bahwa usaha harus extra maksimal. Bohong kalau dibilang dapat beasiswa kita ga mesti sedia dana. Tetot.. Kita tetap harus ada dana standby di rekening, untuk pembuktian bahwa kita tetap bisa hidup di jepang walau beasiswanya tiba-tiba dicabut. Apalagi sekarang saya paralel mengajukan 3 aplikasi COE atas nama saya, si bapak dan Mirai (walaupun yang submit dari pihak sekolah). Uangnya mesti banyak.

This is when my saving comes in handy. Uang hasil jual rumah tadinya diinvest di reksadana, semua ditarik ke rekening asal, kami bikin bank reference statement. Detailnya kapan-kapan saya ceritakan di tulisan yang lain.

Selama masa tunggu pengumuman setelah kirim aplikasi, ini adalah masa tersibuk dan terberat dalam hidup saya. kembali kami menerapkan pengetatan budget sehari-hari. Beberapa bulan sebelum keberangkatan, TRAVELLING AND HOLIDAY WERE BANNED! Arggghhh suami saya strict banget soal duit. Intinya sebelum datang kabar baik dari Jepang dilarang pergi-pergi jauh. Padahal emak amat sangat kudu harus liburan, stres di rumah terus.

Terhitung sejak Awal desember 2018 saya kirim dokumen ke Jepang, sampai pengumuman di akhir Maret 2019, sekitar 3 bulan masa tunggu. Biasanya Certificate of Eligibility (COE) datang sekitar minggu ketiga Februari, Visa bisa diurus minggu pertama dan kedua maret, kemudian minggu ketiga-keempat maret idealnya kami sudah tiba di Jepang. IDEALnya yaa…. Kenyataannya : COE datang tanggal 26 Maret di sekolah saya (Higashikawa), kemudian langsung dikirim ke Indonesia by EMS, sampai di tangan saya tanggal 1 April. Tanggal 2 April saya langsung pengajuan VISA ke VFS JAPAN di Lotte Avenue. Visa selesai tanggal 9 April (5 hari kerja). Kami berangkat tanggal 14 April. MAGIC kan?? Riweuh parah. Saya sampai insomnia berhari-hari karena sibuk persiapan berangkat, mengosongkan rumah kontrakan, jual mobil, balikin kunci rumah, mindahin kucing. Wowww, magic kan?

Selama persiapan keberangkatan yang super riweuh ini, ada farewell party juga oleh teman-teman saya. Saya bahagia banget punya komunitas homeschooling yang orang-orangnya sangat helpful. Walaupun saya lagi mata panda dan stres, ketemu mereka membuat saya bisa tertawa dan bercanda. THANK YOU FRIENDS (You know who you are).

Lanjuttt ya….

*TIKET PESAWAT*

Saya cerita sedikit mengenai tiket pesawat. Bandara terdekat dengan Higashikawa adalah Asahikawa (kode : AKJ). Dari Indonesia, tidak ada pesawat yang Direct flight kesini. Secepat-cepatnya rute adalah JAKARTA-HANEDA, HANEDA-ASAHIKAWA. Tentunya tidak semurah JAKARTA-HANEDA. Buat yang mau travelling ke Hokkaido, Here’s good tips : Siapin uang extra untuk flight. Kalau ke Tokyo habis 4 juta, ke Hokkaido bisa habis 6-7 juta. Kami pakai skyscanner untuk mencari flight termurah ke Asahikawa, dan ga murah-murah amat juga. Tadinya kami mau berangkat tanggal 13 April (Jumat), begitu cek harga untuk 3 orang, mata saya langsung berkunang-kunang. 41 juta oneway/bertiga. Kemudian cek hari berikutnya, tanggal 14 April (Sabtu) harganya 28 Juta oneway/bertiga. Langsung booking tiket. mungkin karena belinya mepet juga harganya jadi 9jutaan oneway. Kalau beli 4-5 bulan sebelumnya, kita bisa dapat sekitar 6-7 juta PP (berdasarkan cerita dari teman).

*******

Kembali ke fase keberangkatan, kami bertiga packing minimalis. Goalnya adalah packing 1 koper besar dan 1 tas ransel per orang. Kami tidak membawa banyak barang apalagi baju untuk persiapan hidup di Higashikawa. Higashikawa di bulan April sangat dingin, kami datang di saat suhu -1 atau 0 derajat celsius. Padahal di Tokyo suhu udara sudah 2 digit, tapi di Hokkaido Winternya panjang, Springnya sebentar, Summer agak lama, Autumn numpang lewat. Kami hanya persiapan membeli Heat Tech Extra Warm @2 pcs atas bawah per orang, Down Jacket 1 pcs per orang, Kaus Kaki wool, Fleece 1 pcs per orang, Sisanya baju biasa. Separuh koper diisi buku karena kami tetap menjalankan kurikulum CM untuk bocah. Sudaaaah…

Hari keberangkatan adalah hari yang mengharukan 🙁 Sedih ga akan ketemu keluarga dalam waktu lama. Kami ga bisa sering-sering pulang juga karena budget terbatas. Puas-puasin peluk ibu bapak dan saudara-saudara lainnya sampai jelang gerbang departure. Setelah dadah-dadah inilah perjalanan keluarga kami yang baru akan dimulai. Selamat tinggal Indonesia, Selamat datang Higashikawa.

Higashikawa, 13 Juli 2019

-Travelling Mikana (setelah 3 bulan settlement)-

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top